#DiBalikBar Amstirdam Coffee (Canon EOS 300 + Kodak Portra 400)

9:17 PM

Pengunjung langsung disambut beberapa photo story oleh Sophia Mega dan Mikirin.Id yang dipamerkan dalam acara #DibalikBar Amstirdam Coffee (Kamis, 4 Januari 2018) | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Mungkin perkenalan saya dengan Amstirdam Coffee belum begitu lama namun ada kesan tersendiri yang tidak dapat terlupakan. Kunjungan pertama saya dimulai ketika mengikuti acara #jelajahkopimalang yang diselenggarakan oleh Amstirdam Coffee pada pertengahan 2017 silam. Acara ini merupakan inisiatif Amstirdam Coffee untuk mencoba memperkenalkan 8 coffee shop dan roastery lokal di Malang yang memiliki ciri khas masing-masing kepada para pecinta kopi di nusantara. Karena acara ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya, tanpa diduga teman-teman #jelajahkopimalang memberi kejutan kue ulang tahun dadakan ketika kami sedang di perhentian coffee shop yang ke-tiga, Telescope Coffee. Ya, perkenalan dengan Amstirdam Coffee ini terasa begitu spesial bagi saya. Speechless!

Acara dibuka dengan selayang pandang mengenai projek #DiBalikBar Amstirdam Coffee oleh Sophia Mega | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Sesi mini talkshow oleh Ocha dan Pak Sivaraja mengenai perjalanan Amstirdam Coffee Roastery selama 6 tahun. Hal yang menyenangkan dari kamera analog kita tidak akan pernah tahu hasilnya akan ada yang terbakar sebagian seperti ini. Surprise! | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Pak Sivaraja dan Sophia Mega. Kejutan lainnya dari analogue photography saat terjadi miss-focus baru dapat diketahui ketika film roll tersebut sudah selesai dilakukan cuci dan scan. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Diawali dengan fokus di coffee roastery sejak tahun 2011 oleh Pak Sivaraja dan Mas Franky, seiring berjalannya waktu Amstirdam Coffee mulai melebarkan sayapnya ke ranah coffee shop. Kata Amstirdam sendiri diambil dari nama 4 kecamatan penghasil kopi di Kabupaten Malang, yakni Ampel Gading, Sumber Manjing, Tirtoyudo dan Dampit. Bukan tanpa alasan, nama ini diambil sebagai tanda apresiasi yang tinggi terhadap para petani di ke-empat kecamatan penghasil kopi tersebut.

Berlokasi di Ruko Soekarno Hatta Indah No. D18, Malang, Amstirdam Coffee sekilas agak tersembunyi didalam deretan ruko-ruko sehingga bagi yang belum pernah berkunjung sebelumnya mungkin akan sedikit kesulitan menemukan lokasinya, namun hal ini akan segera terbayarkan dengan suasana yang cozy dan nyaman karena jauh dari kebisingan pinggir jalan sehingga dapat menikmati suguhan kopi sejuk maupun berbagai pilihan kopi filter yang harganya relatif bersahabat bagi kantong mahasiswa. Tidak hanya kopi, Amstirdam juga menyediakan menu sejuk lainnya seperti coklat sejuk dan matcha.
Obbie, Ocha dan Sophia Mega. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Team Mikirin.Id dan Barista Amstirdam Coffee menunggu acara dimulai. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Bunga Bangun, salah satu team Mikirin.Id sedang mempersiapkan Graphic Recorder. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Berlokasi di Ruko Soekarno Hatta Indah No. D18, Malang, Amstirdam Coffee agak tersembunyi didalam deretan ruko sehingga bagi yang belum pernah berkunjung sebelumnya mungkin akan sedikit kesulitan menemukan lokasinya, namun hal ini akan segera terbayarkan dengan suasana yang cozy dan nyaman karena jauh dari kebisingan pinggir jalan sehingga dapat menikmati suguhan kopi sejuk maupun berbagai pilihan kopi filter yang harganya relatif bersahabat bagi kantong mahasiswa.

Tidak hanya kopi, pengunjung juga dimanjakan oleh banyaknya pilihan makanan ringan yang dapat dinikmati disini. Terdapat berbagai pilihan cake, lumpia, risoles dan donat yang dapat langsung dihangatkan sesuai dengan pesanan. Juga selalu rutin diadakan live music akustik dengan bintang tamu yang berbeda dan turut mengikutsertakan para pedagang makanan disekitar seperti tahu telor hingga soto banjar disetiap Sabtu malam.
Mbak Stella, salah satu barista Amstirdam Coffee | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Mas Benny yang sedang focus membuat latte-art | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
"Barista only if crowded" | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Nah, bertepatan pada hari Kamis, 4 Januari 2018 Amstirdam Coffee kembali mengadakan suatu acara mengupas rahasia #DiBalikBarAmstirdam selama 6 tahun berdiri bersama Sophia Mega dan teman-teman Mikirin.Id sembari menikmati suguhan free-flow kopi sejuk. Sudah menjadi tradisi khusus oleh Amstirdam Coffee untuk selalu memberikan suguhan kopi sejuk gratis bagi setiap pengunjung acara. Pada saat acara #DibalikBar saja telah menghabiskan kurang lebih 150 gelas free kopi sejuk yang dimulai sejak pukul 19.00 hingga 22.00 malam.

Salah satu hal yang istimewa dari Amstirdam Coffee ialah bagaimana mereka menggunakan sistem bar terbuka agar para pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana kesibukan dibalik bar sehingga dapat terjadi interaksi antara pengujung dengan para barista. Pengunjung pun dapat bertanya mengenai kopi yang akan mereka nikmati bahkan turut serta ikut membuat kopi yang dipesan dengan bantuan para barista (dengan catatan ketika tidak dalam jam-jam sibuk di Amstirdam Coffee).
Kiri ke Kanan: Mas Wildan, Mas Franky, Mbak Stella, Pak Siva, Mas Benny, Mas Agit dan Mas Krisna. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400

Behind the scene pemotretan kru Amstirdam Coffee. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
"Pose yang bagus yaa, fotonya tidak dapat dihapus nih yang pakai kamera film" ujar Pak Sivaraja kepada teman-teman kru barista Amstirdam Coffee. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Iconic. Pak Sivaraja, sesorang yang berperan besar dibalik suksesnya Amstirdam Coffee. Teknik foto ini biasa disebut Multiple Exposure dimana dalam satu frame film dijepret lebih dari satu kali sehingga memberikan efek layering. | Canon EOS 300 + Kodak Portra 400
Malam itu berlangsung pameran photo-story berserta mini talkshow bersama owner dan kru barista Amstirdam. Acara yang mengupas bagaimana perjalanan Amstirdam Coffee selama 6 tahun ini tidak hanya menceritakan bagaimana pengalaman jatuh bangun Pak Siva hingga akhirnya fokus di usaha coffee roasting ini, namun juga bagaimana seluk beluk perjalanan kopi itu sendiri mulai dari para petani hingga dapat berada dibelakang bar menunggu untuk disuguhkan kepada para pelanggan setia. Selain itu juga bagaimana peran trial and error yang selalu menjadi bagian dari kunci kesuksesan Amstirdam Coffee hingga dapat bertahan selama 6 tahun perjalanan tersebut.

Salah satu kunci utama Amstirdam Coffee yaitu berani mencoba akan hal- hal baru dan selalu melihat adanya peluang dimana belum ada produk ataupun kompetitor di segmen market tersebut, sehingga kini Amstirdam Coffee berhasil membuat gebrakan baru dalam memperkenalkan produk kopi asli Malang di pasar lokal sebelum kopi tersebut di export ke luar negeri. Agar dapat menyesuaikan keinginan pasar, Amstirdam selalu mencoba membuat profile roasting baru dalam menyangrai kopi lokal tersebut sehingga aroma dan rasa dapat keluar sesuai dengan ekspektasi pasar. 

Menu di Amstirdam Coffee & Canon EOS 300, kamera slr analog yang saya gunakan dalam acara #DiBalikBar. Note: hasil film roll yang digunakan adalah Kodak Portra 400, sedangkan film roll diatas merupakan film BW Fujifilm Neopan SS.
Untuk kamera yang saya gunakan kali ini adalah Canon EOS 300 atau EOS Kiss 2000 yang merupakan salah satu kamera 35mm slr (single-lens reflex) yang diproduksi oleh Canon Japan sejak April 1999 hingga September 2002. Kamera yang memenangkan European Imaging and Sound Association Award pada tahun 1999-2000 ini memiliki beberapa kapabilitas yang tidak kalah dengan kamera slr digital saat ini karena dapat menggunakan sebagian besar lensa Auto-Focus dengan mount EF dari Canon.

Kamera ini memiliki beberapa fitur-fitur menarik yang juga dimiliki kamera slr level diatasnya; memiliki 35 titik matrix light-metering, 7 titik focus, mode creative, mode aperture/shutter priority, mode manual, serta built-in flash. Selain itu Canon EOS 300 juga memiliki fitur safety yang memotret film 35mm secara mundur; yaitu disetiap jepretan akan masuk kembali kedalam canister film bukan sebaliknya kearah luar sehingga dapat mengurangi kemungkinan kerusakan film yang terbakar ketika bagian belakang kamera terbuka secara tidak sengaja.

Spesifikasi Canon EOS 300
  • Introduced: 1999
  • Image size: 24 x 35mm
  • Lens mount: Canon EF
  • Focus: auto-focus, 7 points w/ AF assist and manual option.
  • Metering element: Silicon photocell
  • Metering mode: Center weighted ave, 35-zone evaluative, partial 9%.5
  • Film speed: 6 to 6400 ISO Auto DX or manual
  • Exposure: ±2 EV (½ steps)
  • Exposure modes: Program AE, shutter priority, aperture priority, depth-of-field AE, and full auto.
  • AE bracketing: ±2 EV(½ steps)
  • Shutter Speeds: 1/2000 to 30s with bulb.
  • Film transport: Auto with prewind, Auto end of roll rewind, mid roll rewind.
  • Film advance: Single, continuous auto (1.5 fps)
  • Flash: Built-in, GN 12, TTL, 3 zone. 1/90 sec. sync.
  • other: Depth-of-field preview, multiple exposure
  • Power: Two CR2 lithium batteries with four segment power level, CR2025 for date back.
  • Dimensions: 140 x 90 x 58.5 mm
  • Weight: 355 g. (11.8 oz.) body only.
Pada saat memotret acara #DiBalikBar saya menggunakan film roll Kodak Portra 400 yang merupakan salah satu film roll favorite saya karena menghasilkan skin-tone yang istimewa dan dynamic range yang tinggi sehingga dapat digunakan diberbagai kondisi pencahayaan baik itu outdoor maupun indoor. Menurut saya pribadi, Film Portra 400 ini juga fleksibel karena dapat digunakan secara under-exposure atau over-exposure dengan tetap mempetahankan kualitas hasilnya dengan tone yang konsisten dan khas. Hasil jepretan saya kali ini menggunakan pengaturan kamera ISO 400 dengan mode aperture priority. Hampir semua jepretan tidak menggunakan built-in flash, hanya foto ke 12 & 13 yang menggunakan flash sehingga hasil terlihat lebih terang dari foto sebelumnya. Untuk foto ke 14 (Portrait Pak Siva) menggunakan teknik Multiple Exposure dimana dalam satu frame film dijepret lebih dari satu kali sehingga memberikan efek layering dalam satu foto. Teknik Multiple Exposure dengan menggunakan kamera analog ini next akan dibahas dalam postingan berikutnya.

Sejauh ini saya sangat puas dengan menggunakan Canon EOS 300 ini karena body-nya yang ringan dan juga dapat dikategorikan "mini" untuk kamera film slr sejenis. Kamera ini memiliki bebagai fitur yang juga dimiliki oleh kamera slr film level diatasnya sehingga sangat memudahkan saya dalam mengambil gambar sesuai kebutuhan dan lokasi pengambilan. Ada beberapa hasil jepretan yang miss-focus maupun terbakar purely dari human error (diri sendiri), namun hal-hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri kamera film analog yang kita tidak akan pernah tahu hasilnya bila akan ada yang terbakar sebagian maupun miss-focus seperti ini.

Bagi yang masih penasaran dengan projek #DiBalikBar selengkapnya dapat mengunjungi blog sophiamega.com.

Terima kasih Amstirdam Coffee, Sophia Mega dan teman-teman Mikirin.Id. Jangan lupa untuk komentar dan sarannya dibawah. See yaa!

You Might Also Like

0 comments