#Recap Workshop Cuci Film Hitam Putih (Dari Masalalu & Walking in Ngalam)

12:30 AM


Negatif klise hasil workshop cuci film hitam putih. (Minggu, 28 Januari 2018) 
Mungkin bagi teman-teman yang lahir pada tahun 90an keatas sudah pernah berkenalan bahkan telah sering memotret dengan menggunakan kamera analog sebelumnya. Kini, dengan maraknya kamera digital yang serba instan serta mulai berkurangnya studio foto lokal yang dapat melayani cuci cetak film roll di Indonesia, proses developing film hitam putih maupun warna sudah mulai ditinggalkan. Semenjak kembali ramainya antusiasme pengguna kamera analog semenjak tahun 2015 akhir maka teman-teman @dari_masalalu dan @walkingalam mencoba untuk menghadirkan kembali cuci film hitam putih ini. Kenapa disebut cuci film? karena literally film roll yang akan diproses harus dicuci terlebih dahulu menggunakan cairan developer tertentu sehingga menghasilkan film negative/klise yang siap untuk di cetak maupun di scan.

Acara yang rutin diadakan setiap beberapa bulan sekali ini telah dilaksanakan untuk yang ke-empat kalinya. Acara ini dilatar belakangi akan keinginan untuk selalu dapat berbagi kesenangan dalam berfotografi analog dan juga berusaha memfasilitasi lebih lanjut tidak hanya sekedar menawarkan film roll fresh dan kamera analog, namun juga praktek langsung cuci film roll hitam putih yang telah dijepret oleh teman-teman peserta untuk dapat dijadikan film negative yang siap di scan pada tahap berikutnya. Lebih lanjut @dari_masalalu berharap kedepannya semoga juga dapat memfasilitasi cuci dan cetak yang tidak terhenti hanya sampai pada digitalisasi hasil scanning film negative namun juga sampai menjadi berbentuk gambar fisik. Amiin!

Acara dibuka dengan perkenalan dari perwakilan @walkingalam, Ichwan Susanto atau biasa disapa Mas Boljug @boljugeyesight yang akan berbagi ilmu dengan peserta workshop cuci film hitam putih kali ini.

Pada saat acara pengunjung dapat membeli berbagai kebutuhan amunisi kamera analog yang disediakan oleh @analogcartel dan @dari_masalalu dengan harga yang spesial. Note: Gunpla tidak dijual.

Amri Aly, admin @dari_masalalu mencoba memberikan penjelasan singkat mengenai kamera Yashica MG-1 milik Hanan @nan_hanan_ yang diwariskan oleh ayahnya untuk dapat dipergunakan kembali. 

Beberapa pengunjung juga dapat menitipkan film roll jepretannya untuk dicuci scan secara kolektif oleh @dari_masalalu dengan harga yang sangat terjangkau.
Pada hari itu acara tidak hanya tertutup bagi para peserta yang akan mengikuti acara workshop cuci film hitam putih saja namun teman-teman yang tertarik dan berminat untuk kenal lebih dekat dengan kamera analog dapat datang dan berbincang langsung dengan ahlinya. Beberapa pengunjung salah satunya Hanan turut hadir dengan membawa kamera analog pemberian dari ayahnya yang telah lama disimpan. kamera tersebut Yashica MG-1 yang merupakan salah satu kamera rangefinder 35mm dengan shutter priority otomatis rilisan Yashica diproduksi sejak tahun 1975. Dengan mendapat sedikit pencerahan bagaimana cara kerja serta pemakaian kamera analog tersebut secara baik dan benar oleh admin @dari_masalalu, kamera tersebut lalu dicoba untuk diberikan baterai yang sesuai hingga pada akhirnya kamera tersebut dapat berfungsi secara normal sebagaimana mestinya. 

Tidak lupa setiap bulannya @dari_masalalu memberi kesempatan bagi teman-teman yang berdomisili di Kota Malang dan sekitar untuk dapat memproses cuci scan secara kolektif (atau biasa disebut dropbox) film roll warna maupun hitam putih dengan harga terjangkau. Pada saat acara workshop cuci film hitam putih ini juga hadir beberapa pengunjung yang datang untuk menitipkan film rollnya untuk ikut serta dalam cuci scan kolektif @dari_masalalu. Hal ini bertujuan agar mempermudah teman-teman pengguna kamera analog untuk mencuci scan hasil jepretan filmnya dikarenakan untuk di Kota Malang sendiri sudah dapat dikatakan tidak ada lagi studio lokal yang menerima untuk jasa cuci scan maupun cuci cetak hasil kamera analog lagi.

Cosina CT1 Super generasi pertama milik saya sendiri (kiri) dan Cosina CT1 Super dengan lambang bintang diatas tulisan model kamera milik @ketjeel (kanan) yang memiliki metering lebih akurat serta bentuk bodi prisma lebih rata dibanding Cosina CT1 Super generasi sebelumnya.

Duet favorite saya, Minolta X300 milik @irawansuh91 (kiri) dan @febmotion (kanan) yang sama-sama menggunakan lensa 28mm f3.5 sehingga hanya warna body yang dapat membedakan keduanya.

Tidak ketinggalan, kamera pocket atau biasa disebut tustel juga hadir di acara workshop cuci film hitam putih. Fujifilm Zoom Date 1000 atau Fujifilm Silvi Fi untuk pasar domestik Jepang ini dimiliki oleh @cak_dharmo

Sama-sama menggunakan Canonet QL17 GIII, hal menarik lainnya ialah sepasang tas selempang rilisan @jellyplayground yang dipakai bersamaan pada saat acara workshop cuci film hitam putih oleh @fendrablack dan @ipraditya.
Pada kesempatan ini para kamera analog enthusiasts juga bertemu dan berbincang mengenai kamera milik mereka masing-masing. Tidak hanya itu, mereka juga berbincang mengenai berbagai tehnik memotret serta film roll favorite yang mereka gunakan masing masing. Ya, karena jika berbicara mengenai kamera analog dan analog fotografi itu sendiri tidak akan ada habisnya, selalu saja ada hal-hal menarik yang dapat diperbincangkan.

Salah satu kamera pocket yang terlihat kali ini ialah Fujifim Zoom Date 1000 atau biasa disebut Fujifilm Silvi Fi untuk pasar domestik Jepang. Kamera ini memiliki keistimewaan dalam hal coating lensanya yang sudah menggunakan Super EBC Fujinon, seperti lensa kamera pocket high-end keluaran fujifilm seperti Fujifilm Natura atau Fujifilm Klasse. Untuk kamera slr (single lens reflex) 35mm, pada saat acara saya membawa Cosina CT1 Super generasi pertama dan salah satu peserta workshop cuci film hitam putih @ketjeel  juga membawa kamera yang sama, Cosina CT1 Super namun dengan lambang bintang diatas tulisan model kameranya. Cosina CT1 Super ini merupakan generasi lanjutan yang memiliki metering lebih akurat serta bentuk bodi prisma lebih rata dibanding Cosina CT1 Super generasi sebelumnya.

Lalu ada pula yang membawa kamera film slr (single lens reflex) 35mm Minolta X300 yang diproduksi sejak 1984 hingga 1990an. Kamera ini memiliki kontrol shutter elektronik sehingga dapat memudahkan pengguna namun perlu diingat agar selalu membawa baterai cadangan karena kamera ini tidak dapat dioperasikan tanpa baterai. Tidak lupa duet Canonet QL17 GIII milik @ipraditya dan @fendrablack serta kamera 120mm tlr (twin lens reflex) Rolleiflex milik @luckafandy yang datang dari Kota Bandung untuk menyempatkan diri berkunjung ke acara workshop cuci film hitam putih namun kamera mereka tidak sempat terdokumentasi. Harap maklum.

Mas Boljug mulai menjelaskan step-by-step bagaimana cara cuci film hitam putih yang baik dan benar kepada para partisipan.

Dengan mendapat pengarahan langsung dari Mas Boljug, @difdaf31 mempraktekkan cara membongkar-pasang reel tabung develop. Pengenalan dengan peralatan cuci film yang akan digunakan sangat diperlukan karena akan dibutuhkan pada saat akan mengisi film didalam ruang gelap/changing bag dan untuk tahap-tahap berikutnya.

Peserta mencoba film pickers, yakni alat yang digunakan untuk mengeluarkan lidah film roll yang telah masuk kedalam canister kembali sehabis memotret hingga frame terakhir. Note: film pickers berwarna putih menggunakan tehnik jepit untuk menarik keluar film, sedangkan film picker berwarna coklat dibawah menggunakan tehnik kait/gerigi.

@ajimohammadr mencoba menggulung film roll ke dalam reel dengan film negative bekas sebelum mempraktekkan secara langsung di dalam changing bag dengan film hitam putih yang akan dicuci. 

Mas Boljug memberi contoh kepada @ferezarientama cara memotong ujung lidah film roll yang benar. Hal ini diperlukan untuk mempermudah pada saat penggulungan kedalam reel pada tangki develop serta menghindari film negative yang tidak tergulung secara sempurna. 

Dengan hanya mengganti biaya cairan developer yang telah disediakan oleh panitia sebesar Rp. 35.000, teman-teman pecinta analog di Kota Malang sudah dapat menikmati sebuah proses panjang bagaimana cahaya yang ter-ekspos di emulsi silver halida yang nantinya akan terkena cairan developer selama beberapa waktu tertentu akan dapat menghasilkan suatu film negative yang nantinya dapat langsung dicetak maupun di-scan terlebih dahulu agar menjadi foto hitam putih yang seutuhnya.

Dalam acara ini, teman teman penggiat analog di Kota Malang dan sekitarnya diajak untuk dapat merasakan bagaimana proses mencuci hasil jepretan hingga menjadi negative/klise yang nantinya dapat di scan dan menjadi file gambar digital secara step-by-step langsung oleh ahlinya. Dimentori oleh Ichwan Susanto atau biasa dipanggil Mas Boljug dari komunitas @walkingalam, acara ini awalnya dibatasi hanya untuk 10 orang partisipan namun karena antusiasme teman-teman pecinta analog pada akhirnya saat pelaksanaan menjadi 13 film roll yang di-develop pada hari itu.

Benda yang sedang di pegang berwarna putih ialah reel film untuk dimasukkan kedalam tabung develop. Note: lidah film roll di kiri tersebut sudah dipotong sedemikian rupa sehingga sudah siap untuk digulung kedalam reel.

@bayudem menggunakan Fujifilm Changing Box untuk memindahkan film roll kedalam tabung develop secara aman karena kedap akan cahaya.

Berbeda dengan @ishkjstn yang kali ini mencoba loading film roll kedalam tabung developer dengan mengunakan Changing Bag yang disediakan panitia.

Suasana di acara workshop cuci film hitam putih. Terlihat Mas Boljug sedang memberikan pengarahan kepada @okycahyanto dan @bayudem sedang menggunakan Changing Box.

Ramainya acara workshop cuci film hitam putih di @warungsrawung.
Diagram step-by-step proses cuci film hitam putih.
Pertama-tama Mas Boljug selaku instruktur akan me-list film roll hitam putih teman-teman partisipan acara cuci film hitam putih ini. List inilah yang nantinya menjadi guidance bagi teman-teman partisipan untuk melakukan proses developing. Dalam list tersebut terdapat nama peserta, jenis film roll apa yang digunakan, apakah di push/pull, nama cairan developer yang akan digunakan, perbandingan cairan developer, serta lama waktu develop itu sendiri. Seluruh isi list tersebut nantinya juga akan mempengaruhi satu dengan yang lainnya, karena berbeda jenis film roll dan perlakuan ISO yang digunakan maka akan berbeda pulalah waktu yang digunakan untuk proses develop. Serta berbeda cairan developer yang digunakan maka akan dapat mempengaruhi waktu proses hingga hasil cuci film itu sendiri.

Kali ini saya menggunakan film hitam putih produksi AgfaPhoto Films, yakni Agfa APX 100. Dari segi tone, ketajaman serta grain yang dijanjikan oleh film ini sangatlah sesuai dengan sebuah film monokrom profesional sejenisnya terutama hasil skin-tone yang luar biasa telah membuatnya menjadi film standar digunakan untuk portrait hitam putih. Namun kembali lagi dengan waktu develop dan agitasi yang baik dan benar pulalah maka dapat menghasilkan gambar dengan kontras yang tinggi dan grain yang bersih pula.

Untuk jenis developer yang digunakan kali ini ialah Kodak D-76 yang dijual dengan masih berbentuk bubuk konsentrat sehingga memudahkan untuk dibawa berpergian. Sebelum berbentuk cairan Kodak D-76 diperlukan suatu proses mixing dengan air tawar hingga menjadi stock solution yang nantinya dapat dicampur kembali dengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:4 hingga seterusnya sesuai dengan kebutuhan. Semakin tinggi konsentrat yang digunakan maka semakin cepat pulalah proses developing namun dengan catatan harus lebih berhati-hati karena film negative yang dihasilkan lebih rentan terjadi kerusakan. Disini waktu yang saya butuhkan untuk mencuci film Agfa APX 100 dengan tidak di push/pull menggunakan cairan developer Kodak D-76 dengan perbandingan 1:1 ialah selama 11'30" menit dengan agitasi inverted selama 10 detik setiap 1 menitnya.

Tabung develop yang saya gunakan berjenis Paterson Universal Tank dengan dua reel film yang dapat mencuci film berukuran 35mm maupun 120mm. Tangki atau tabung develop ini sangat mudah digunakan dan dapat menggunakan berbagai tipe agitasi sesuai kebutuhan serta kedap cahaya dan sangat mudah dibersihkan. Masih banyak jenis dan merk tangki developer film yang beredar di pasaran namun disarankan untuk menggunakan tangki yang berbahan plastik polystyrene dalam penggunaan pribadi daripada menggunakan tangki developer berbahan stainless steel karena lebih rentan terjadi kebocoran dan lain sebagainya. Untuk mengenali tangki develop dibawah dapat dilihat bagian bagian dari isi tabung develop yang saya gunakan:

Isi Tabung Develop
Seperti halnya menyeduh kopi, proses develop film negative juga perlu focus dan ketelitian agar menghasilkan kopi yang nikmat. ya gak @raflizulfi

Kali ini saya menggunakan film hitam putih Agfa APX 100, dengan waktu develop dan agitasi yang benar maka dapat menghasilkan gambar hitam putih dengan kontras yang baik dan grain yang bersih. 

Kotak ajaib. Didalam Fujifilm Changing Box inilah dimulai proses penggulungan film roll kedalam reel untuk dapat dimasukkan kedalam tangki develop tanpa harus takut filmnya terbakar karena kotak ini kedap cahaya.

Kali ini saya sendiri akan juga mencoba menggunakan Changing Box untuk loading film roll kedalam tabung develop.

Setelah semua peralatan telah siap, maka cairan developer dapat segera dimasukkan kedalam tabung.

Agitasi. Proses ini dapat dilakukan dengan cara memutar batang "agitator" dalam jangka waktu tertentu (semi-standing) dan bisa juga dengan cara diguncang atau biasa disebut agitasi inverted. Tebak saya menggunakan proses yang mana?

Setelah waktu develop terpenuhi, saatnya mengembalikan cairan develop kedalam gelas ukur dan dilanjutkan dengan step berikutnya.

Cairan fixer Ilford. Konon katanya bila diminum dapat seketika menyebabkan teleport ke rumah sakit terdekat. Jangan dicoba!
Konsistensi suhu cairan developer, stop bath dan fixer sangat krusial dalam mempengaruhi hasil akhir negative film.

Mas Boljug @boljugeyesight
Proses develop film Agfa APX 100 dengan mengunakan Kodak D-76 memakan waktu 10"30' menit, setelah waktu proses telah selesai maka saatnya untuk melanjutkan pada proses berikutnya; Stop Bath. Proses ini dilakukan untuk menghentikan proses developing pada film roll tadi sehingga tidak terjadi overexpos serta melindungi fixer di film negative. Pada dasarnya proses Stop Bath membutuhkan cairan asam namun kali ini dapat juuga menggunakan asam cuka dapur dengan konsentrasi 3 persen. Lama waktu yang dibutuhkan untuk proses Stop Bath kurang lebih 1 menit dengan terus dilakukan agitasi agar cairan merata.

Tahap selanjutnya yakni Fixing, bukan nama sepeda maupun obat gosok proses ini adalah suatu tahap untuk menghentikan sensitifitas pada emulsi film yang telah melewati proses develop tadi. Proses ini menggunakan cairan konsentrat Ilford Rapid Fixer yang dicairkan dengan perbandingan sesuai kebutuhan. Proses ini sangat penting karena film yang telah terdevelop tadi apabila tidak melewati proses fixing maka apabila ter-ekspos dengan cahaya akan dapat terbakar. Proses ini membutuhkan waktu minimal 5 menit hingga 10 menit.

Washing atau biasa disebut dengan proses pembilasan merupakan proses selanjutnya. Proses ini dilakukan dengan menggunakan air mengalir dengan minimum pembilasan sebanyak 3 kali. Hal ini diperlukan untuk menghilangkan residu-residu serta bekas cairan kimia sebelum film negative dikeluarkan dari dalam tabung develop karena cairan tersebut dapat mengakibatkan iritasi pada kulit dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Setelah tahap-tahap diatas telah terlewati maka sudah saatnya untuk Drying atau bisa disebut proses pengeringan. Setelah film roll dikeringkan dengan terlebih dahulu menggunakan lap kanebo khusus untuk film roll agar hasil negative tidak tergores pada saat dikeringkan. Agar hasil maksimal maka sebaiknya dijemur terlebih dahulu di ruang yang tidak terkena cahaya langsung matahari serta bebas dari debu agar film negative tidak kotor dengan cara digantung dan diberi pemberat agar film negative tidak melengkung. Lama proses pengeringan ini memakan waktu minimum 2 jam dan apabila telah benar benar kering maka dapat segera dilakukan proses scanning/digitalisasi. Proses ini merupakan tahap akhir workshop cuci film hitam putih dan dinamakan sebagai proses Digitalisasi karena proses ini menjadi medium antara film negative hingga dapat menjadi gambar digital berformat jpeg. Untuk scanner Epson Perfection V700 dibutuhkan 6 frame negative sebanyak 4 buah untuk sekali proses scanning selama kurang lebih 20-25 menit untuk ukuran file gambar 2000 pixel dengan resolusi 300 dpi.
Pancaran sinar kebahagiaan yang hqq di wajah @santosoarief yang telah berhasil mencuci fim hitam putihnya secara mandiri.

Sehabis digunakan, tabung develop langsung dicuci dan dilap hingga benar benar kering karena akan digunakan untuk peserta yang selanjutnya. 
Setelah dilakukan pembilasan, maka film roll dikeringkan dengan terlebih dahulu menggunakan kanebo khusus untuk film, agar hasil negative tidak tergores saat dilap. 

Setelah dilap maka sebaiknya dijemur terlebih dahulu di ruang yang tidak terkena cahaya langsung serta bebas dari debu supaya film negative dapat segera di scan.

Negative yang telah dimasukkan kedalam mask scanner berukuran 35mm alangkah baiknya dicek terlebih dahulu agar tidak ada frame yang terpotong/cropped.

Proses memotong film negative yang akan di-digitaisasi. Untuk scanner Epson Perfection V700 dibutuhkan 6 frame negative sebanyak 4 buah untuk sekali proses scanning selama kurang lebih 20-25 menit untuk ukuran file gambar 2000 pixel dengan resolusi 300 dpi.


Mas Boljug memberi pengarahan lebih lanjut tentang tata cara scanning film negative 35mm dengan menggunakan scanner flatbed Epson Perfection V700.
Mesin Scanner Epson Perfection V700 inilah yang banyak berjasa karena selalu ada disaat teman-teman workshop cuci film hitam putih akan melakukan digitalisasi hasil negative film

Girang bener nih @santosoarief yang film negativenya akan segera di scan. Keuntungan menjadi partisipan pada kloter pertama ialah film negativenya kering lebih awal dari peserta lainnya sehingga dapat segera di scan. 


#FILMISNOTDEAD #BELIEVEINFILM #STAYBROKESHOOTFILM
Salah satu hasil cuci film hitam putih jepretan saya menggunakan film Agfa APX 100 dengan kamera Canonet QL17 GIII milik @fendrablack. Sejauh ini sangat puas dengan tone dan ketajaman gambar yang dihasilkan. Untuk hasil cuci film hitam putih saya akan diupload pada postingan berikutnya.

Ini untuk kali ke-3 pengalaman saya mengikuti workshop cuci film hitam putih yang diadakan toko @dari_masalalu dan @walkingalam. Acara yang berlangsung pada hari Minggu, 28 Januari 2018 berlokasi di @warungsrawung Jl. Parangtritis no 3 Tawangmangu, Malang. Warung ini juga menyediakan kopi dan berbagai pilihan snack bagi yang ingin bersantai sambil mengikuti acara workshop cuci film hitam putih kemarin. Terima kasih kepada @nan_hanan_ dan @ipraditya yang sudah bantu foto-foto hingga batrai kamera saya habis, @fendrablack yang sudah menggunakan kamera Canonet QL17 GIII barunya untuk ditest hasil film, serta @hariobbie dari Mikirin.Id yang sudah berkunjung dan tertarik dengan analog photography.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih banyak kepada panitia acara khususnya Mas Amri admin toko Dari Masalalu @dari_masalalu dan Mas Boljug sebagai instruktur bersama teman-teman Walking in Ngalam @walkingalam yang selalu mensupport para analogue photography enthusiast di Kota Malang dan sekitarnya sehingga saya dapat turut belajar banyak mengenai proses film developing berserta bertemu dengan teman-teman baru pencinta kamera analog lainnya. Terima kasih seluruh teman-teman yang sudah berbagi kesenangan dalam beranalog, karena sejatinya happiness only real when shared to others.

Dari Masalalu: darimasalalu.wordpress.com & instagram @dari_masalalu.
Walking in Ngalam: walkingalam.com & instagram @walkingalam.
Warung Srawung: instagram @warungsrawung.

You Might Also Like

0 comments